Home » , , » Gita Wirjawan: Jangan Ada Lagi Keraguan tentang Kelapa Sawit

Gita Wirjawan: Jangan Ada Lagi Keraguan tentang Kelapa Sawit

Written By Dre@ming Post on Minggu, 24 November 2013 | 16.44

Gita Wirjawan

NUSA DUA - Sejak hadir di KTT APEC 2013 di Nusa Dua Bali dan memimpin pertemuan tingkat menteri-menteri bersama Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan hampir setiap kali bertemu wartawan mendapat pertanyaan yang sama: sejauh mana upaya Indonesia memperjuangkan kelapa sawit dan karet untuk memperoleh keringanan tarif dari negara-negara APEC.

Ini tak diherankan. Tahun lalu di Vladivostok Rusia, APEC menyepakati adanya daftar Environmental Goods (EGs-List) yang terdiri dari 54 komoditas. Ini adalah daftar yang memuat produk-produk yang dikategorikan ramah lingkungan. Produk-produk itu akan mendapat keringanan tarif bea masuk di negara-negara APEC, sehingga pada akhir 2015 tidak lebih dari lima persen.

Indonesia sejak awal tahun ini sempat memperjuangkan agar minyak kelapa sawit dan karet dapat dimasukkan. Namun dengan alasan daftar itu tidak mungkin dinegosiasikan lagi karena APEC bukan forum negosiasi, kelapa sawit dan karet urung masuk daftar.

Namun, Indonesia tidak mau berhenti sampai di sana. Gita Wirjawan berjuang dan melobi para menteri-menteri APEC untuk meloloskan produk-produk unggulan itu dengan cara lain yang ia sebut lebih luas dan inklusif mengakomodasi kepentingan negara-negara sedang berkembang. Hal itu lah yang selama forum APEC 2013 berlangsung di Bali, populer dengan sebutan  prakarsa RI, yang diberi judul agak panjang, yaitu Promoting Products which Contribute to Sustainable and Inclusive Growth through Rural Development and Poverty Alleviation (PPSIG-RDPA).

Gita mengatakan, lobi intensif secara bilateral maupun regional dalam pertemuan APEC sudah digelar sejak bulan Juni 2013, didukung oleh asosiasi minyak sawit, karet, kertas dan bubur kertas, KADIN dan ABAC Indonesia. Dan akhirnya, PPSIG-RDPA  itu akhirnya diterima di tingkatSenior Official Meeting (SOM) APEC 2013 di Bali pada 3 Oktober.

Tidak berhenti disitu saja,prakarsa itu pun lolos pula pada pertemuan tingkat menteri-menteri pada 5 Oktober 2013. Selain termaktub dalam pernyataan bersama (joint statement) menteri-menteri APEC, prakarsa ini juga akan menjadi bagian dari deklarasi para pemimpin APEC pada pertemuan puncak 8 Oktober nanti.

Meskipun sudah beberapa kali hal itu dijelaskan, masih juga terdapat keraguan di sejumlah kalangan perihal capaian ini. Sejumlah wartawan masih mempertanyakan kejelasan duduk soal skema yang diperjuangkan oleh Indonesia itu. Untuk menjawab hal itu, Gita Wirjawan meluangkan waktunya menjawab pertanyaan sejumlah wartawan ketika ia mengunjungi Media Center APEC 2013 di Bali Nusa Dua Convention Center II (BNDCC), di Nusa Dua, Bali, (6/10) malam. Berikut ini nukilannya:

Dapat dijelaskan tentang prakarsa Indonesia untuk memperjuangkan kelapa sawit agar dapat mendapat keringanan tarif di APEC?
Jangan ada lagi keraguan bahwa kita bisa atau tidak memasukkan kelapa sawit. Selama ini kanEnvinromental Goods (EGs) List untuk tahun 2015. Tapi sekarang kita kembangkan kerangka yang lebih inklusif dan lebih lebar untuk memasukkan produk-produk agro (kita). Dan, ini disepakati.

Tentu catatannya adalah subject to, yaitu dalam beberapa bulan ke depan kita harus mengembangkan Terms of Reference (TOR)-nya, agar dapat memenuhi syarat pertumbuhan berkelanjutan, syarat pengentasan kemiskinan dan syarat pembangunan pedesaan.

Apakah kerangka yang kita tawarkan ini merupakan bagian dari EGs List atau terpisah?
Itu terpisah dari EGs List. Kalau dulu EGs list ini kurang jelas modalitasnya. Akhirnya yang datang 700-800 produk dari anggota. Bingung kan. Akhirnya kita kembangkan, pakai pendekatansustainable development (pembangunan berkelanjutan) karena ini sejalan dengan tema APEC tentang resilience, APEC sebagai mesin pertumbuhan global, konektivitas, pertumbuhan yang berkeadilan dan Bogor Goals.

Apakah betul negara maju di APEC tidak setuju kelapa sawit dimasukkan pada EGs List?
Mereka bukan tidak setuju dengan kelapa sawit tetapi mereka tidak setuju dengan prosesnya. Selama ini ad hoc sekali. (Ada yang bilang) saya mau solar panel masuk, turbin masuk, tapi apa syaratnya. Syaratnya ramah lingkungan. Bagaimana mendefiniskannya. Saya bilang ini kelapa sawit ramah lingkungan. Akhirnya kita pakai pendekatan sustainable development, pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan.

Sudah disiapkan daftar produk-produk dalam kategori ini?
Ini yang sudah disepakati kerangkanya, untuk memasukkan produk apa saja, selama produk itu memenuhi syarat untuk pembangunan berkelanjutan, pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan. TOR-nya akan dituntaskan dalam beberapa bulan.

Jadi upaya memasukkan kelapa sawit bukan lagi lewat EGs List?
Menurut saya ini dalam kerangka yang lebih besar dari EGs List. Soalnya EGs list mengenaienvironmental saja. Tetapi tidak pasti akan mengentaskan kemiskinan. Jadi ini lebih luas. Tidak terbatas pada kelapa sawit, bisa ke rotan, beras, kedelai, selama itu membantu pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan.

Artinya akan ada dua list?
Akan ada dua yang dikembangkan. Dulu itu EGs List. Itu cuma ramah lingkungan. Kalau ini membantu pembangunan berkelanjutan, pembangunan pedesaan, pengentasan kemiskinan. Produknya apa saja tergantung mekanisme TOR yang disepakati pada beberapa bulan ini. Payung konsepnya sudah disepakati, dan  ujung-ujungnya tahun 2015 produk-produk itu disepakati. Jadi kita punya waktu dua tahun, sama dengan EGs List.

Secara umum bagaimana Anda menilai semangat yang muncul dalam APEC 2013 di Bali ini?
Semangat deklarasi Bogor (Bogor Goals) yang dicanangkan selama ini bukan semata mengenai liberalisasi. Kenyataannya dengan penurunan tarif, pembukaan pintu-pintu perdagangan dan investasi, angka perdagangan dan investasi memang sudah mencuat signifikan, ini tercermin dalam intrakeonomi di APEC.

Namun semangat-semangat keadilan perlu dikedepankan agar perdagangan diantara negara maju dan negara berkembang lebih tercermin dalam aktivitas ekonomi kita. Ini terkait dengan wanita dan UKM untuk lebih diberdayakan. Financial inclusion lebih ditingkatkan. Untuk konektivititas juga telah disepakati tentang multiyears plan on connectivity.

Lalu?
Yang tidak kalah penting juga terkait dengan kesepakatan kita untuk mengkerangkakan (dan sudah dideklarasikan di tingkat menteri) produk-produk yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan.  

Ini sudah di-endorse oleh PNG dan China dan disepakati semua negara. Malaysia sudah excitedbanget. Tadinya Malaysia tidak. Sekarang mereka excited agar produknya masuk juga. China jugaexcited.




Share this article :
 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Dre@ming Property - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Tembok Tebing